Published On: Sat, Jul 2nd, 2011
Uncategorized | By admin

Sejarah Singkat Gereja Toraja

Share This
Tags

Gereja Toraja di Rantepao

CIKAL BAKAL Gereja Toraja berawal dari benih injil yang ditaburkan oleh guru-guru sekolah Landschap (anggota Indische Kerk-Gereja Protestan Indonesia), yang dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Para guru ini berasal dari Ambon, Minahasa, Sangir, Kupang, dan Jawa. Atas pimpinan dan kuasa Roh Kudus, terjadilah pembaptisan yang pertama pada tanggal 16 Maret 1913 kepada 20 orang murid sekolah Lanschap di Makale oleh Hulpprediker F. Kelleng dari Bontain.

Pemberitaan injil kemudian di lanjutkan secara intensif oleh Gereformerde Zendingsbond (GZB) yang datang ke Tana Toraja sejak 10 Nopember 1913. GZB adalah sebuah badan zending yang didirikan oleh anggota-anggota Nederlandse Hervormde Kerk (NHK) yang m,enganut paham gereformeerd. GZB berlatarbelakang pietis, dalam arti sangat mementingkan kesalehan dan kesucian hidup orang Kristen. Injil yang ditaburkan oleh GZB di Tana Toraja tumbuh dan dibina oleh GZB selama kurang lebih 34 tahun lamanya. Paham teologi GZB yang pietis itu banyak mempengaruhi paham teologi warga Gereja Toraja sampai saat ini.

Pada tahun 1947 terjadilah babak baru dalam sejarah penginjilan di kalangan masyarakat Toraja. tepatnya pada tanggal 25 – 28 Maret 1947 diadakanlah persidangan Sinode I di Rantepao yang dihadiri oleh 35 utusan dari 18 Klasis. Sidang Sinode I ini memutuskan bahwa orang-orang Toraja yang menganut agama Kristen bersekutu dan berdiri sendiri dalam satu institusi gereja yang diberi nama Gereja Toraja. Dalam rangka membina persekutuan, kesaksian dan pelayanannya sejak berdiri sendiri Gereja Toraja telah mengalami banyak pergumulan, baik yang berasal dari dalam dirinya sendiri (faktor internal), maupun yang berasal dari luar (farktor eksternal). Pergumulan internal yang cukup menonjol segera mencuat ke permukaan yaitu kurangnya tenaga pelayan (SDM) yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas untuk mampu melayani dan membina warga gereja yang mulai bertumbuh serta mulai menyebar ke luar wilayah Tana Toraja. Masalah lain yang cukup menantang ialah bagaimana sikap Gereja Toraja yang benar, baik dan tepat terhadap adat-istiadat dan kebudayaan Toraja. Tantangan eksternal yang segera dihadapi Gereja Toraja yang relatif masih muda dan serba terbatas itu antara lain adanya pergolakan DI/TII. Pada saat itu warga Gereja Toraja cukup menghadapi tantangan disatu pihak, dipihak lain pertumbuhan jumlah anggota Gereja Toraja cukup drastis.
Tetapi karena kurangnya tenaga pelayan, maka banyak orang Toraja yang menjadi Kristen tidak terbina sebelumnya dan kurang terlayani secara baik sesudah menjadi anggota Gereja Toraja. Akibatnya kualitas iman Kristiani menjadi memprihatinkan. Masalah lain turut mempengaruhi pertumbuhan Gereja Toraja adalah bertumbuhkembangnya ajaran komunisme yang memuncak pada peristiwa G30S/PKI di Indonesia. Ketika itu sebagian warga Gereja yang memiliki kadar iman yang tidak cukup kuat dengan mudah terseret oleh bujukan PKI tanpa mengetahui apa itu PKI dan apa tujuannya. Sementara di zaman Orde Baru, di satu pihak perkembangan Gereja Toraja secara kuantitatif dan penyebaran wilayah pelayanan cukup besar. Tetapi dilain pihak,warga Gereja Toraja sebagai bagian integral dari masyarakat dan bangsa Indonesia ikut tertulari oleh berbagai penyakit social saat itu. Salah satu masalah besar yang dialami masyarakat Indonesia di era Orde Baru adalah terjadinya kesenjangan social ekonomi antar masyarakat Indonesia. Keadaan ini berdampak pula bagi pertumbuhan Gereja Toraja yang tidak merata disegala bidang. Akibatnya warga gereja dan wilayah pelayanan Gereja Toraja sangat bervariasi. Sebagian besar warga Gereja Toraja masih hidup dalam kemiskinan, namun ada pula yang telah sejahtera dan mapan ekonominya. Dari sudut wilayah pelayanan, sebagian besar berada di pelosok-pelosok yang masih sulit dijangkau dan menghadapi masyarakat yang relatif homogen, namun sudah ada pula yang berada di kota metropolitan yang maju dan modern serta bergaul dengan masyarakat majemuk di berbagai bidang. Variasi ini melahirkan pula perbedaan kepentingan dan kebutuhan, sebab pola pikir, wawasan dan pola hidup merekapun berbeda. Keadaan ini pada gilirannya cukup mempengaruhi efektifitas dan efisiensi pelayanan Gereja Toraja. Hal lain yang perlu pula disinggung disini ialah masyarakat Indonesia telah menjadi amat pragmatis dan materialistis. Keadaan ini mau tidak mau berpengaruh pula kepada warga Gereja Toraja. Ketika orang telah menjadi materialistis, maka materi menjadi ukuran kesuksesan dan keberhasilan seseorang. Sifat ini selanjutnya akan melahirkan sikap yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh materi dengan segala dampak dan konsekuensinya. Tentu masih banyak lagi faktor lain baik internal maupun eksternal yang turut mempengaruhi perjalanan Gereja Toraja pada masa lampau, namun tidak dapat diuraikan secara lengkap. Faktor-faktor yang dikemukakan di atas hanyalah yang dianggap paling signifikan mempengaruhi perkembangan Gereja Toraja pada masa lampau sehingga Gereja Toraja ada sebagaimana ia ada pada saat ini.

2. Bentuk Gereja Toraja

Gereja Toraja dalam menata kelembagaan sebagai alat pelayanan menerapkan bentuk struktur pelayanan Presbiterial Sinodal, dengan pengertian yaitu :

• Bentuk Presbiterial, adalah pengaturan tata hidup dan pelayanan gereja yang dilaksanakan oleh para presbiteroi (Pendeta, Penatua, dan Syamas ) dalam satu jemaat.

• Bentuk Sinodal ( Sinode artinya berjalan bersama) diwujudkan dalam proses pengambilan keputusan atau perumusan kebijakan oleh Majelis Gereja dari seluruh Jemaat yang berhimpun bersama-sama secara berjenjang mulai dari Klasis, Sinode Wilayah sampai Sinode Am; yang sebagian kewenangannya dimandatkan kepada badan-badan pelaksana yang diangkat dalam masing-masing persidangan yang bersangkutan.

• Jadi bentuk Presbiterial Sinodal adalah pengaturan tata hidup dan pelayanan gereja yang dilaksanakan oleh para presbiteroi (Pendeta, Penatua, Syamas) dalam satu jemaat, dengan keterikatan dan ketaatan kepada kebersama-samaan dengan para presbiteroi dalam lingkup yang lebih luas (Klasis, Sinode Wilayah, Sinode Am)

Timeline Gereja Toraja

Gereja Toraja berdiri 25 Maret 1947 di Rantepao. Gereja Toraja lahir dan tumbuh dalam sejarah pemberitaan Injil oleh suatu badan Zending yang disebut GZB (Gerevormerde Zending Bond-Belanda). GZB didirikan oleh satu aliran dalam tubuh Gereja Hervormd Belanda (NHK). GZB mengutus penginjil dan guru-guru sekolah di kalangan Suku Toraja. Atas kerja keras dan pengorbanan mereka, terbentuklah jemaat-jemaat di berbagai tempat yang kemudian mendirikan Gereja Toraja yang berdiri sendiri.

1912-1913
Misionaris dari badan Zending yang disebut GZB (Gerevormerde Zending Bond-Belanda). GZB didirikan oleh satu aliran dalam tubuh Gereja Hervormd Belanda (NHK) diutus ke Tanah Toraja.

1913
16 Maret
Pembaptisan pertama kali di lakukan di Tanah Toraja.

1929
Pendirian sekolah / akademi pelatihan guru dan rumah sakit di beberapa wilayah tana Toraja yang menghasilkan penginjil dan guru-guru sekolah di kalangan suku Toraja . Atas kerja keras dan pengorbanan mereka, terbentuklah jemaat-jemaat di berbagai tempat yang kemudian menjadi cikal-bakal gereja Toraja.

1941,
Sekitar 15,000 orang Toraja dibaptis. Penginjilan di Tana Toraja semakin digiatkan.

1942
Persiapan pendirian gereja Kristen di tana Toraja semakin di giatkan oleh GZB.

1947,
25 Maret
Setelah perang dunia kedua, gereja Toraja menjadi otonom dan dideklarasikan pendiriannya di Rantepao. Gereja menggunakan Heidelberg Catechism, Pengakuan Belgia, and Canons of Dordt yang di perhunakan sebagai pengakuan gereja.

1958-1964
Sebuah Alkitab dalam bahasa asli diterbitkan yang juga digunakan oleh Katolik Roma. Pada tahun tahun ini Gereja Toraja juga mengalami penganiayaan di tangan gerakan Darul Islam fanatik. desa Kristen diserang, rumah-rumah dan gereja dibakar, dan orang-orang disiksa dan dibunuh. Pemerintah memulihkan ketertiban pada tahun 1964. hubungan damai dengan masyarakat Muslim di sekitarnya tetap menjadi perhatian sehari-hari orang-orang Kristen Toraja

1981
Sinode menerima pengakuan gereja yang dibuat oleh teolog dari Toraja.

1984
Wanita diperbolehkan menjabat pada jabatan gereja, (penatua, pelayan)

SUMBER.
www.pgi.or.id
Sumber:http://www.gerejatoraja.com/

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site